Berarsitektur di Rumah Intaran

8:56 PM


Sekitar bulan Januari 2017 lalu, beberapa mahasiswa arsitektur Universitas Brawijaya melakukan workshop ke Rumah Intaran milik arsitek Gede Kresna, di Bali.

Gede Kresna merupakan salah seorang arsitek yang sudah lama berkarya di bidang Arsitetur Indonesia. Gede Kresna sempat bekerja beberapa saat di Jakarta sampai akhirnya dia memutuskan untuk mendirikan sebuah bironya sendiri yang diberi nama Rumah Intaran.

Nama Rumah Intaran sendiri terinspirasi dari pohon intaran. Pohon intaran dikenal sebagai pohon yang memiliki beragam manfaat, baik sebagai obat-obatan, sebagai peneduh, juga sebagai pelepas oksigen yang cukup banyak ke alam bebas.

Gede Kresna berharap Rumah Intaran dapat menjadi sebuah "obat" bagi permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia dan juga dapat bermanfaat bagi bangsa, serta lingkungan. Hal yang membedakan Gede Kresna dengan arsitek lainnya adalah tujuan dan fokus dalam hidupnya terutama dalam berarsitektur. Disaat arsitek lain berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit, berlomba-lomba mencari nama dan ketenaran, beliau justru berarsitektur untuk melestarikan budaya Indonesia serta membantu kesejahteraan Indonesia.

Menurut Gede Kresna, nama dan ketenaran bukan sesuatu yang harus dikejar karna hal tersebut bukanlah tujuan utamanya. Beliau juga tidak mementingkan jumlah proyek yang harus dia ambil atau kerjakan dalam setahun. Dalam setahun beliau berkata bahwa dia hanya mengerjakan 1 atau 2 proyek saja, karna memang fokus utama beliau adalah kualitas kultur suatu bangunan.

Berasitektur di Rumah Intaran ini hanya mengambil sebagian kecil proporsi dari seluruh kegiatan yang ada di dalamnya. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan di Rumah Intaran seperti ekspolarsi material, riset pangan, sosial kultur, menanam pohon, membuat kerajian, dan sebagainya.

Disinilah ekspolasi material lokal banyak digunakan sehingga menarik perhatian para akademisi baik dari dalam maupun luar negeri. Mulai dari tanah, kayu, bambu, hingga bahan-bahan bekas lainnya terus diekslorasi dan dimanfaatkan di Rumah Intaran ini.

Semoga di Indonesia semakin banyak arsitek seperti beliau, yang mampu memberikan kontribusi tidak hanya kepada orang banyak, tapi juga untuk lingkungan dan budaya Indonesia. Tidak hanya meletakkan fokus bangunan sebagai tujuan utama, tetapi juga memperhatikan konteks sosial, kultural, serta memanfaatkan potensi budaya yang negara kita miliki.



























































oleh-oleh dari Rumah Intaran

You Might Also Like

1 komentar

Portfolio Design

Popular Posts

Instagram