6 Months After My Graduation

11:59 AM


*siap-siap sebentar lagi kalian akan membuang 10-15 menit waktu berharga kalian buat membaca cerita yang sangat panjang ini. Maaf ya lagi males editing & kalau ceritanya dibikin per bagian aku suka lupa mau post jadi yaudah sekalian aja :)

Quarter Life Crisis
Kurang lebih sekitar 6 bulan sejak aku resmi meninggalkan derita arsitektur di bangku perkuliahan dan kini memasuki fase baru penderitaan (lagi) yang sesungguhnya. 

Dalam waktu yang singkat itu, banyak sekali hal-hal yang terjadi.

Mulai dari wisuda, merasakan indahnya momen-momen pengangguran, galau mau lanjut S2 atau nggak, stress mencari kerja, hingga stress di kerjaan. 

Timeline di instagramku banyak dipenuhi update para fresh graduate melanglang buana mencari kerja. Hampir 50% temen-temenku sekarang sudah mendapatkan pekerjaan. 
Ada yang kerjanya jauh-jauh ke luar pulau, salut deh sama mereka-mereka yang rela merantau jauh.
Ada beberapa dari mereka yang lanjut S2 juga. Ada pula beberapa yang memutuskan untuk goleran di kasur kamar dulu aja, seperti aku misalnya. 

Pokoknya setelah lulus mau istirahat, mau rehat & libur bentar. Minimal 2 bulan.

Itu termasuk bentar nggak?

Sebenernya bukan karena pengen istirahat aja sih. Tapi aku juga mau memanfaatkan momen kebebasan ini buat berpikir lebih serius, menyusun rencana hidup, meluruskan cita-cita lagi dan mikirin langkah ke depannya mau apa, kemana dan bagaimana. 

Pokoknya nggak mau berpikir
Udah deh yang penting kerja dulu dimana aja, yang penting kerja & nggak nganggur” 
Padahal nggak salah kok kalau kita memutuskan untuk nganggur dulu.

Atau
Mending lanjut S2 dulu mumpung otak masih fresh, umur masih muda, mau jadi apa ntaran aja dipikirnya”.

Nggak.

Nggak mau lagi ngambil keputusan karena buru-buru & tanpa dipikir matang-matang.

Masalah pekerjaan, sebenernya aku nggak buru-buru amat buat cari kerja. Karena emang masih hidup sendiri dan belum berkeluarga, jadi tanggungan hidup cuma diri sendiri. Orangtuaku juga bukan tipe yang memaksakan anaknya harus cepat-cepat cari kerja, harus cepat lanjut kuliah, harus cepet nikah dan harus cepat-cepat lainnya. 

Karena hidup itu bukan perlombaan. Setiap orang pasti punya waktunya sendiri buat mencapai sesuatu, punya timeline hidup masing-masing. Nggak ada yang salah mau dia memutuskan untuk nganggur, kuliah lagi, lanjutin kuliah yang belum kelar, kerja, atau menikah. 
Mungkin ada yang terlambat dalam hal kuliah atau pekerjaan, tapi mungkin mereka cepat dalam segi kehidupan lainnya. 

Masalahnya adalah, tekanan sosial yang kadang suka gangguin timeline hidup kita. Iya nggak?

Salah satu bentuk tekanan itu mulai muncul ketika ada yang bertanya

“Kamu dimana?”

“Sekarang sibuk apa?”

“Kerja dimana?”

“Jadi lanjut s2?”

Setiap update sosial media pertanyaannya pasti itu. Entah itu lagi update lagi jalan-jalan, lagi makan, bahkan lagi main sama kucingpun ditanyain kerjaan. Nanyanya kalo nggak kerja, sibuk apa, lagi dimana, udah kayak sensus aja!

Ada beberapa yang memang peduli, ada beberapa yang tanya karena cuma kepo.

Emang dalam hidup kita nggak bakal bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan macam itu. Matipun kita ntar bakal tetep ditanya juga, sama malaikat. Saking stress tekanan sosial, aku bahkan sempet berhenti main instagram beberapa minggu karena capek ditanya mulu. Ditanya kayak gitu beneran nggak enak. Percaya deh kadang sumpek juga kan waktu kalian sering ditanya kapan lulus dan kapan wisuda!

Oke lanjut ...

Waktu masih kuliah sejujurnya aku belum punya rencana jangka panjang, mau dibawa kemana kehidupan selanjutnya setelah lulus. Mau mengejar gelar master atau kerja dulu. 
Kalau kerja, nggak tau mau kerja dimana, perusahaan apa, nggak tau ntar mau jadi apa.
Kalau liat-liat jurusan sih harusnya berakhir jadi arsitek ya.
Pikiranku tentang dunia kerja masih cetek dan cenderung terpengaruh stereotype orang-orang. Kalo nggak kerja di bumn, yah jadi pns, bumn, pns, bumn, pns, bumn, pns, bumn, atau dosen, eh dosen juga pns ya!
Nggak apa-apa sih kalau mau kerja jadi bumn, pns, dll. Bagus malah kalo bisa keterima. Cuma kalau dipikir lelah juga jadi budak corporation. Apalagi bekerja dengan sistem birokrasi yang ribet, monoton, cuma mikir aja udah bikin takut. 
Rasanya ingin sekali keluar dari lingkaran pemikiran orang-orang yang mengarahkan bekerja di tempat-tempat yang aku sebutkan di atas. Katanya sih kalau kerjanya disitu, kita bakal sukses. Padahal sukses itu relatif, nggak harus dilihat dari posisi apa dan di instasi mana orang tersebut bekerja.

Bingung dan galau, kerja dulu apa S2 dulu. Fix sih ini kayaknya aku sedang berada dalam fase 1/4 crisis life haha padahal umur belum 1/4 abad.




Memilih Zona Aman dan Nyaman
Akhirnya waktu itu aku berpikir buat lanjut S2 dulu aja.

“Lanjut S2 aja kali ya, mumpung masih muda, trus otak juga masih fresh!”

Salah satu keputusan yang menurutku “ingin tetap berada di zona nyaman”. Emang bener kan kuliah itu zona nyaman, banyak yang terperangkap disitu sampai sekarang belum keluar-keluar.

Seperti yang kita tau kuliah pastinya mahal. Makanya aku berusaha sebisa mungkin kalau mau lanjut S2 pengennya dapet beasiswa, biar nggak terus jadi beban orangtua. Walaupun orang tua sanggup membiayai, tapi tetep aja kalau bisa meringankan beban mereka kan lebih baik. Meski orang tua nggak memaksa, tapi malu kalau 22 tahun masih belum bisa mandiri.
Apalagi kalau yang punya cita-cita kuliah di luar negeri. Tanpa beasiswa, ntah berapa biaya yang harus di keluarin. Belum biaya perkuliahan, belum biaya research, tempat tinggal, makan, belanja, dll yang jumlahnya IDR dan $$$$$ sekian.
Nggak cuma luar negeri sih, dalam negeri pun juga mahal. Pendidikan emang mahal! 

Makanya guys yang masih kuliah, segera luluslah. Mending duitnya dipakai jalan daripada habis buat bayar semesteran. Motivasiku biar cepet lulus hehe. Tapi ya jangan sedih yang masih berjuang kuliah, mungkin kalian terlambat dalam hal perkuliahan, tapi bisa jadi kalian lebih cepet dalam hal lainnya.
Semangat yang masih berjuang di dunia perkuliahan. Nggak perlu membandingkan waktu lulus kalian dengan orang lain, karena tiap orang punya waktu sukses yang berbeda-beda! Yang penting jangan males!

Jadi waktu itu fokus & tujuan utamaku adalah mengejar beasiswa buat melanjutkan S2.
Akhirnya sebulan setelah hibernasi aku mulai belajar (belajar bahasa inggris yang masih sangat kurang, sampe sekarang juga masih belajar), baca-baca dan cari tau informasi yang banyak tentang beasiswa yang fully funded. Mulai dari LPDP baik LN maupin DN, KGSP, AAS, full bright, chevening, trus apalagi ya banyak sampai lupa! Beneran deh beasiswa itu banyak, yang penting kitanya mau usaha pasti bisa dapet (berusaha meyakinkan diri sendiri suatu saat bisa dapet salah satunya). 

Aku tulis semua persyaratannya mulai dari cara berburu loA, recomendation letter, syarat ielts yang diminta, terus kalau butuh portfolio formatnya gimana, essay, universitas dan jurusan yang mau aku ambil apa, topik rencana tesis, kapan waktu apply dan deadline beasiswanya. Tiap ada tes simulasi ielts gratis aku ikutin aja tuh, kan lumayan buat latihan!

Tapi 

Tiba-tiba

Aku

Berubah

Pikiran.


Dari yang awalnya mau langsung S2, jadi memutuskan buat mencari kerja dulu aja.

Alasannya kenapa?

Hmm ini lumayan panjang sih, kayaknya bakal aku bikin post khusus alasan aku milih kerja dulu daripada S2. Udah kayak video klarifikasi youtube sebelah aja.

Sebenernya nggak langsung mikir mau kerja gitu sih. Lebih melihat peluang yang ada. Berasa kayak eman aja gitu buang kesempatan yang belum tentu ada tahun depan.




Job seeker experience
Bulan agustus 2018 unofficial aku pengangguran. Selain disibukkan cari-cari informasi beasiswa & belajar, aku juga menyicil ngerjain portofolio design.

Kurang lebih semua itu selesai sampai bulan september 2018.
Lama ya?
Bikin portofolio aja lama. Maafkan jiwa perfeksionis saya.
Setelah wisuda bulan september, mulai lah menyebar email cinta ke perusahaan-perusahaan impian. Berharap sih dibales, nggak di read doang. 

Untuk lokasi kerja sebenernya aku fleksibel. Karena dibesarkan dikeluarga rantau, orangtua nggak pernah ngelarang aku mau kerja dimana aja. Waktu itu sih aku cuma kepikiran mau melamar kerja kalau nggak di Surabaya ya Jakarta. 

Alasannya? 

Tipikal manusia materialistis dan realistis lainnya. UMRnya gede. Dasar!

Saat kuliah, kalian semua pasti berpikir ingin kerja di konsultan arsitektur terkenal, bisa bangun bangunan yang sustainable, ramah lingkungan, bangunan yang maha megah, maha dasyat, anti badai, banyak ijo-ijo, desainnya e s t e t i k, menerapkan kriteria GBCI, high quality but low budget, yah pokoknya yang arsitek banget lah. 
Satu lagi, mau gaji banyak!


HA
HA
HA
Dulu sih, itu dulu.
Tapi semakin kesini, pikiran idealis kayak gitu semakin memudar.
Keinginan ini biasanya memudar ketika masa-masa pencarian kerja, karena sadar susahnya cari lowongan. Kalaupun ada lowongan, sainganya beuh banyak. Cari yang realistis aja.

Sebagai fresh graduate menurutku mending jadi ikan besar dalam kolam yang kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam yang besar. Tau kan ya maksudnya apa.
Jadi kriteria posisi pekerjaan atau instansi tempat bekerja saat kita baru memulai karir jangan terlalu dibatasi. Mau jadi arsitek, project manager, estimator, drafter, kerja di konsultan, kontraktor, developer, bebas sih. Nggak harus jadi arsitek murni yang tugasnya hanya desain seperti waktu kelas studio. 

Selama 4 tahun kuliah arsitektur, aku ngerasa ada yang kurang dari kemampuanku. Aku yakin semua mahasiswa arsitektur kalau disuruh mendesain pasti hasilnya bagus. Okelah kalau ilmu & eksplorasi desain nggak perlu diragukan. Tapi, yang mampu mendesain sesuai kaidah/aturan atau pertimbangan yang berkaitan sama material, budget, bisa marketing (ini penting), pasti yang bisa cuma beberapa mahasiswa. Mungkin karena desain sewaktu perkuliahan nggak dibatasi sama aturan, budget, dan masalah operasional lainnya. Bahkan aku juga ngerasa semakin hari makin kehilangan jati diri & style desain aku itu seperti apa.

Maka dari itu aku pengen banget belajar mendesain, nggak hanya bagus dalam hal eksplorasi desain, tapi juga bisa menentukan material yang dipakai, budget, bagaimana melakukan pengadaan & penawaran ke client, pengen banget belajar hal lain selain desain. Dan semua itu nggak bisa aku dapatkan kalau aku hanya mengandalkan ilmu waktu kuliah. Jadi ya harus kerja!

Dunia arsitek itu luuuuassss banget, lingkup kerjaan, kerja dimana, banyak banget peluang. Selagi  masih muda kalau bisa belajar banyak hal, cari-cari banyak pengalaman! Apapun tawaran atau peluang yang ada di depan, di coba aja.

Sebenernya lowongan kerja itu banyak.
Tapi kenapa masih banyak pengangguran?

Mungkin emang kitanya aja yang belum memenuhi kualifikasi yang diinginkan oleh perusahaan, atau mungkin kita terlalu berkualifikasi untuk perusahaan mereka, hehe mungkin.

Total dari 50 lebih lamaran yang aku kirim via email, 60 lebih lamaran yang aku apply di jobstreet, jobds, dan fasilitas pencarian kerja lainnya. Kurang lebih selama 6 bulan ini aku udah pernah 4 kali panggilan interview, 3 atau 4 kali dinotice perusahaan, tes bumn pernah, tes cpns juga pernah. Nolak kerjaan pernah. Ditolak apalagi. Gagal sewaktu tes TPA pernah. Gagal interview. Gagal kerja padahal udah diterima, tinggal kerja besoknya aja, tapi gimana ya mungkin belum jodoh, pernah! 

Aku bersyukur pernah ngerasain semua itu. Karena selain menambah pengalaman juga menambah pelajaran & pandanganku sebagai pertimbangan kedepannya dalam mencari pekerjaan. Bikin aku lebih banyak bersyukur juga sama kerjaan yang aku dapat sekarang, karena aku tau cari kerja itu susah. Kerjaan sih banyak, tapi yang bener-bener sesuai sama apa yang kamu mau, terus kualifikasi perusahaan terhadap calon-calon kandidatnya, itu yang bikin susah. 

Sebenernya cari kerja itu gimana ya, dibilang gampang ya nggak gampang, dibilang susah juga ya nggak susah banget kayak iklan politik sebelah. Intinya yang penting kalian tetep mau usaha, jangan nyerah, terus belajar, terus berusaha memperbaiki diri. Jangan terlalu minder sama skill orang lain, kadang kita harus nggak harus tau malu saat  melamar pekerjaan. Skill kan bisa dipelajari seiring berjalannya waktu, kalau kalian udah diterima disuatu perusahaan, berarti recruiter beranggapan kalian memang pantas & layak. Jadi jangan pernah ragu dan minder kalau mau apply kerja, tunjukin aja kalau kalian mau berusaha belajar, kerja keras, dan meyakinkan perusahaan kalau kalian bisa memberikan benefit buat mereka! Nekat aja sih intinya.

Boleh maruk tapi kalo bisa maruknya dalam hal ilmu. Kalau belum kepepet banget, jangan terlalu mikirin masalah salary. Percaya deh kalau kalian pinter, skill nya bagus, perusahaan mana sih yang bakal ngasih gaji rendah. Jadi mending sekarang buktiin dulu aja ke perusahaan gimana kinerja kita. Banyak-banyak belajar, nggak cuma nuntut mau gaji yang besar! Yah yang penting gajinya masih masuk akal.



Kamu sekarang dimana? Kerja apa? Kerja dimana?

IPK kamu berapa?Kapan sidang?Kapan lulus?Kerja dimana?Gaji berapa?Kapan nikah?Kapan Dimana Kapan Kapan Kapan


Semua pasti nggak suka kan kalau ditanyain macam gini.

Aku tau kok gimana rasanya ditanyain terus dan itu nggak enak. Satu dua kali nggak apa-apa, tapi kalau keseringan kan pasti kesel dan bikin stress. Padahal sebenernya kita baik-baik  aja  walau masih nganggur.

Sering juga aku ngeliat orang-orang banyak yang mengeluh sama pekerjaannya. Yah wajar mungkin emang pressure kerjaannya tinggi dan mereka lagi stress di tempet kerja. Tapi kadang kesel juga liatnya kalau keseringan.
Akupun sering marah sama diri sendiri, kok sering ngeluh sih! Semoga aku nggak sering ngeluh lagi.
Setiap kita merasa capek dan bosen karena kerjaan yang menumpuk, inget banyak orang di luar sana yang ingin berada diposisi kita tapi dia nggak mampu apa-apa. Mungkin belum mendapat panggilan, mungkin ada masalah lain, mungkin belum lulus, atau mungkin kesehatan yang menghambat mereka.

"Talks about your blessings more than you talk about your problems" Janji buat kepada diri sendiri yang masih sering aku langgar.

Jadi teman-teman yang mungkin masih berjuang baik itu cari kerja, struggle ditempet kerja, atau yang kuliah mungkin, percayalah semua pasti berlalu, kalian pasti berada diposisi yang lebih baik sebentar lagi, sabar, tetep doa dan usaha. Kalau ada yang tanya sekarang dimana, jawab aja lagi tiduran di kamar.

Kembali ke pertanyaan awal.

Dulu aku bingung mau kerja perusahaan konsultan atau kontraktor. Rasanya pengen cari ilmu dikeduanya biar ilmunya sekalian dapet banyak hehe.


Fortunately I got what I really want!

Mungkin lain kali aku bakal sharing lebih detail tentang my job experience dan kerjaan aku sekarang. Soon!



Future plans
Untuk saat ini aku sangat-sangat haus sama ilmu dalam dunia kerja. Masih banyak kurangnya, masih banyak nggak taunya, masih banyak begonya, dan masih mencari jati diri buat tau minatku di dunia perarsitekturan. Setelah lulus aku merasa kok kayaknya kemampuanku kurang banget. 
Jadi sebisa mungkin aku mau belajar dimanapun tempatnya dan apapun posisi pekerjaan yang ada sekarang.

Mungkin aku pengen cari pengalaman kerja 1-2 tahun tergantung tawaran.

Setelah 1-2 tahun, aku mau melanjutkan mimpiku buat S2. Walaupun cita-cita utamaku bukan bekerja dalam bidang akademis, aku yakin yang namanya menuntut ilmu nggak harus buat jadi dosen kok, pasti ada manfaatnya. 

Sedih kalau ada yang bilang

“Ngapain S2, si itu lo S2 tapi gajinya nggak beda jauh sama yang S1”

Padahal menuntut ilmu tujuannya bukan hanya untuk naikin gaji doang.

Ilmu nggak bisa tergantikan sama apapun, nggak ada ruginya walau biaya pendidikan berjuta-juta. Ilmu, pasti bermanfaat nggak cuma buat urusan duniawi tapi juga akhirat. 

Aku pengen S2 bukan hanya untuk menunjang karir, tapi karena emang aku butuh belajar & menambah wawasan dibidang yang aku cintai. Kalau bisa sebelum umur 27 sudah menyandang gelar master aamiin. 

Untuk jurusan sebenernya mungkin agak berbeda. Kalau dulu aku pengen urban design, sekarang aku juga masih cari tau aku maumya apa, karna akhir-akhir ini aku jatuh cinta sama dunia konstruksi, interior, housing, property, bisnis, aduh banyak. Biarkan waktu yang menjawab kemana passion ku berlabuh.

Setelah S2 tentunya aku pengen ngembangin karir. 
My dream job?
Nah yang ini akan aku tulis di post selanjutnya juga ya! 



Menikah?
Kalau umur 25 sampai 27 masih mau kuliah, terus kapan nikah?

Aku emang punya banyak cita-cita, tapi ya nggak mau sendiri juga berjuangnya. Bahkan waktu dulu SMP sempet kepikiran mau nikah sebelum umur 25, waduh. 

Akhir-akhir ini aku kepikiran, kalau aku ini kan cewek. Pasti suatu saat bakal nikah & punya anak. Setelah menikah tentunya pengen lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bukan di tempet kerja. 

Kalau sekarang, aku nggak punya target mau menikah diumur berapa. Yang penting siap dan udah ada calonnya haha. 

Siap itu nggak cuma dari segi mental, tapi juga finansial. Emang sih kalau menunggu semua siap, mental, finansial, nggak bakal nikah-nikah. Bahkan kita hidup esok pun pasti nggak pernah siap 100% . Walaupun semua itu pada akhirnya emang harus nekat dan “dijalani aja” tapi tetep harus punya rencana. 

Yang pake rencana aja kadang gagal, gimana yang nggak? 
Seperti itulah pokoknya, jangan tanya mana calon dan kapan nikah. Sekarang masih ingin fokus buat belajar & ingin finansial freedom dulu, at least buat diri sendiri. 

Doakan saja semoga ku cepet bertemu jodoh yang se-frekuesi, se-visi, se-misi dalam urusan dunia dan juga akhirat.
 

Last but not least
Manusia emang cenderung suka menolak perubahan. Tapi tanpa sadar sebenernya dia sedang berubah. Kearah yang lebih baik harusnya. 

Ajaib ngeliat gimana dalam waktu 6 bulan banyak sekali yang berubah. Dari aku yang dulunya nggak tau setelah lulus mau jadi apa, sampai sekarang bisa kepikiran rencana jangka panjang mau jadi apa. 

Aku seneng karena sekarang aku punya tujuan dan mimpi buat diperjuangakan! 

Set your goals, doa, solawatin, usaha, cari cara gimana wujudinnya! Jangan terpengaruh sama pattern hidup orang lain. Nggak ada yang mustahil kalau kita mau usaha.

Namanya hidup nggak ada yang tau. Bahkan cita-cita dan tujuan pun kadang bisa berubah. Manusia bisa merencanakan umur sekian mau apa, besok mau apa, tapi tetap Tuhan yang menentukan.

Mana tau kan bulan depan aku sebar undangan, atau tiba-tiba besok dapat kuis undian 1 triliun, atau jadi CEO. Mana tau tahun depan dapet scholarship ke MIT , UCL atau SKY campus biar bisa ketemu oppa.

Kan kita nggak tau.

Yang penting nikmati aja segala proses hidup. Jangan banyak ngeluh, perbanyak bersyukur, terus berusaha, jangan pernah merasa puas sama kemampuan yang ada sekarang. Ngeluh boleh sih sesekali soalnya kita manusia, tapi jangan keseringan. 
Jangan sampai ngerasa hidup nggak adil dan suka ngebandingin hidup dengan orang lain.
Coba lihat lagi. Bisa aja kalian lebih beruntung daripada orang di sekitar kalian.
Kadang tanpa sadar kita lupa bersyukur sama rezeki yang Allah kirim ke kita selain pekerjaan & materi. Temen atau sahabat yang setia, keluarga yang utuh, waktu, kesehatan, bahkan punya hidup punya mimpi jga termasuk rezeki, ya masih banyak lagi rezeki lainnya yang kita nggak sadar. Banyak kok! Rezeki nggak cuma terlihat dari ada tidaknya kerjaan atau materi yang kita miliki.

Kurang lebih begitulah kisah hidup selama 6 bulan terakhir setelah lulus kuliah.

Udah gitu aja semoga bermanfaat! Kalau nggak ya sudah nggak apa-apa yang penting udah baca, lumayan nambah duit adds.
Bye! Semangat guys, semoga semua cita-cita dan tujuan hidup kalian segara terealisasi!

You Might Also Like

2 komentar

  1. Suka sekali , terimakasih tulisanmu membuat saya cukup termotivasi ketika sekarang sedang dalam posisi strugle mengejar goal yang belum tercapai :')

    ReplyDelete
  2. Thanks, mbak. Tulisannya sangat memotivasi. Kebetulan saya juga mahasiswa UB yang baru aja lulus, tinggal nunggu wisuda. Saya kira masa-masa skripsi adalah titik terendah saya, tapi ternyata masih ada titik yang lebih rendah selain itu.

    ReplyDelete

Portfolio Design

Popular Posts

Instagram