This is not a cooking tutorial!

10:36 AM



Manjadi perempuan yang terlahir dan tinggal di negara Asia membuatku sangat akrab dengan kalimat

"Perempuan itu harus bisa masak".

Walaupun mama tidak pernah berkata demikian, namun lingkungan selalu mendikte bahwa kodrat seorang perempuan adalah harus bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Sebuah ironi yang menyedihkan. It feels like cooking and doing household chores are a mandatory standard for a woman to be categorized as an "ideal woman".

Sejak sekolah menengah aku sudah hidup sebagai anak kos. Hidup mandiri sebelum memiliki KTP hingga menginjak umur 20 tahun, mamaku tidak pernah menuntutku untuk bisa memasak. 

"Kalau kamu capek, kalau banyak tugas, katering atau beli aja ya makannya" 

and that's how I survive until now.

Another story, my grandma is a head chef, she's working in a private company as a chef until now. My mom was also a  former chef. Even my dad is good at cooking. Besides, my best friend good at cooking too and she's always in charge of "cooking responsibility" whenever we hang out. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa selama ini hidupku selalu dikelilingi dengan orang-orang yang pintar memasak dan itu membuatku jadi malas untuk belajar memasak.

Namun, beberapa bulan terakhir ini aku sering bertanya kepada diriku, kehidupan seperti apa yang aku inginkan dan skill seperti apa yang perlu aku pelajari bisa mencapainya. Tiba-tiba aku teringat dengan salah satu youtuber yang berasal dari China bernama Li Ziqi. SummaryLi Ziqi dulunya adalah seorang gadis kota pada umumnya yang menghabiskan waktunya bekerja sebagai pegawai kantoran. Merasa jenuh dan kehilangan value dalam hidup, akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang nyaman di kota menuju sebuah desa kecil tempat neneknya tinggal. Terbiasa tinggal diperkotaan yang serba praktis membuatnya harus beradaptasi dengan kehidupannya yang baru. If you see in her video, she performs the work as a farmer dengan pengetahuannya yang mendalam tentang makanan, alam, tradisi dan budaya China. Li Ziqi bahkan bisa membuat furniture sendiri , mejahit, memasak, bercocok tanam, menyulam, aduh apa lagi ya dia benar-benar perempuan multitalenta, aku tidak terkejut kalau suatu saat dia bisa membangun candi!

Walaupun kebutuhan akan teknologi, berkarir, berkembang, dan masih banyak hal lainnya yang mungkin akan sulit untuk aku lepaskan, kadang aku berpikir kalau hidup sederhana melakukan hobby dan passion di tempat yang bisa kita katakan sebagai rumah seperti Li Ziqi adalah impian. Suatu saat nanti, aku ingin hidup tenang menghabiskan waktuku untuk lebih banyak bekerja di rumah, menulis, mengembangkan brand ku, menjadi arsitek, berkebun, memasak, dan bermain bersama 13 kucing, saat ini aku baru punya dua kucing
Aku tidak tahu diumur berapa aku akan bisa mencapai fase hidup tanpa beban dan target. Sangat sulit untuk melepas dan menjadi orang biasa saja yang tidak terlalu ambisius disaat aku harus berpikir bagaimana caranya untuk bisa mandiri secara finansial dan menjadi sebuah karakter yang aku impikan.

Tapi menurutku, jalan menuju sebuah mimpi itu yang penting prosesnya. Bagaimana kita menjadikan mimpi itu sebagai sebuah habit dan nggak hanya terpaku dengan tujuan akhir. Lihat apa yang kamu temukan dalam dirimu dalam proses itu. Hal itu juga yang membuat aku bersemangat untuk banyak belajar kemampuan-kemampuan lain yang tidak pernah aku  sebelumnya aku dengan dalih 

"Oh nanti saja deh belajarnya kalau sudah..."

Mungkin sekarang aku harus mulai menjadikan tujuan akhir hidupku menjadi sebuah habit, nggak melulu mengejar bagaimana bisa sampai di sana.
Contohnya kecil seperti belajar memasak, belajar menjahit, rajin berolahraga, dan beberapa bulan lalu aku belajar mengecat vas bunga. Sungguh sebuah kebanggaan yang harus diapresiasi untuk seorang manusia yang selalu kesusahan membuka tutup botol air mineral akhirnya bisa membuka tutup basket cat, walau dengan sedikit bantuan beberapa alat pendukung.

So....this time I learn how to cook. Food give no barrier to mankind. Siapapun boleh memasak, siapapun boleh hobi memasak. Seorang perempuan yang belajar memasak bukan berarti dia patuh pada budaya patriarki. Perempuan memasak karena dia senang memasak, dia melakukannya untuk dirinya sendiri. 

Nggak perlu kawatir kalau seorang perempuan nggak bisa memasak. Ada banyak hal yang bisa dilakukan sebagai perempuan, sebagai manusia, kita semua berhak menentukan apa yang ingin dan tidak ingin kita lakukan dalam hidup. Do it because you want it!

Berikut ini beberapa foto makanan yang aku bikin. Saat ini, aku masih mengkategorikan diriku sebagai orang awam yang senang berkesperimen dengan rasa dan belum mahir dengan berbagai istilah dalam dunia memasak, as long as it tastes good, then it's enough. But who knows, bisa saja 5 tahun lagi aku ikut master chef 10.

So here's I'm gonna show you the foods I made! Untuk seseorang yang dulunya harus meminta bantuan Mama kalau mau balik telur, I think I did a great job so far.

Well, not the best but it's edible and acceptable, for me.























Anyway, table setting ini terinspirasi oleh style penataan meja makan ala korea. Emang sih cuci piringnya jadi lebih banyak, tapi aku senang banget kalau makanan ditata rapi, jadi makin semangat makan. Buat yang susah makan atau sedang dalam proses menggemukkan badan mungkin trik ini bisa dicoba juga!




Seperti judulnya, ini memang bukan tutorial memasak.
Sekian cerita dari seorang perempuan berumur 24 tahun yang baru berkeinginan untuk belajar memasak. Sebenarnya aku masih punya banyak cerita lainnya yang ingin aku bagikan, tunggu sebentar ya, bulan ini aku benar-benar sibuk tapi bukan sok sibuk kok! 

See you!



Hi! If you want to see the index of my blog for better reading experience, please refer to this page







You Might Also Like

0 komentar